Article

List Articles Categories

Kunjungi profil saya
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Adalah seorang raja yang berkuasa di sebuah wilayah di Eropa, seorang raja yang terkenal pemberani dan disegani kawan maupun musuh-musuhnya. Sang raja memiliki seorang putri yang telah beranjak dewasa dan sudah saatnya menikah, namun yang diinginkannya adalah seorang menantu yang pemberani seperti dirinya.

Posted In | Motivasi | 0 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Saat kembali ke kota kelahiran, saya menyempatkan diri untuk berjumpa dengan beberapa kawan lama. Di antaranya adalah dua bersaudara, yang salah satunya berada di panti rehabilitasi narkoba sedangkan saudara lainnya adalah seorang pengusaha otomotif yang terbilang sukses. Di antara kawan-kawan seumur, hal ini sering menjadi bahan pergunjingan. Mengapa dua bersaudara yang berasal dari orang tua yang sama, dibesarkan dalam lingkungan yang sama, dapat menjadi sangat berbeda.

Posted In | Motivasi | 1 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Senin pagi itu nyaris saja saya terlambat memasukkan kartu absensi ke clock-card tapi beruntung masih kurang 5 menit dan tidak sempat tercetak 'merah'. Meski halaman parkir sudah ada beberapa mobil dan motor tapi di lantai 17 tempat saya bekerja masih terasa sepi karena hanya ada kira-kira sepertiga dari biasanya. Nampak dua buah payung basah terbuka untuk dikeringkan. Usai meletakkan tas di meja kerja, seperti biasa saya ke dapur untuk menyeduh segelas coffee-mix, "Pagi Gus" kataku menyapa seorang staf yang belum tiga bulan bergabung di perusahaan ini dan nampak sudah sibuk dihadapan komputer-nya"Selamat pagi Pak, banjir ya Pak?""Iya, hujan deras, banjir dan macet dimana-mana, rumah kamu pasti dekat sini ya ? enak dong, tidak kena macet". "Tidak juga Pak, cukup jauh Pak, sekali naik bus dan dua kali naik angkot kira-kira satu setengah jam perjalanan kalau cuaca normal.""Oh begitu ya, koq nggak terlambat masuk kantornya?""Iya Pak, kan udah ketauan kalau bulan-bulan musim hujan begini kebanyakan macet, apalagi ini hari senin, pasti lebih parah Pak" "Saya berangkat setengah jam lebih awal dari biasanya" "Ooo..., saya pun manggut2 sambil mulai membuka laptop di meja saya." "Pagi Dave" tiba-tiba saja Jimmy menyapa seraya berjalan tergopoh-gopoh melewati ruanganku dengan baju agak basah dan sibuk melap tangannya dengan tissue, jam di dinding menunjukkan pukul 08.25"Wah.. kacau.. kacau, benar-benar parah.. hujan deras banget, banjir dimana-mana, macetnya ampunnnn… mana lainnya? Ha.. ha.. pasti banyak yang telat juga kan ? Kamu kena telat juga kan? kena macet juga kan?" lanjut Jimmy sambil berjalan tergesa-gesa menuju ruang-kerjanya. Saya tersenyum kecil sambil membaca e-mail yang mulai mengalir dan dalam hati bergumam: "Karena hujan, ada sebagian orang yang mempersiapkan diri agar tidak datang terlambat, sementara itu sebagian lainnya meyakini bahwa semua orang pasti datang terlambat demikian pula dirinya".

Posted In | Motivasi | 1 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Suatu hari di usia tuanya Winston Churchill mengunjungi sebuah sekolah dasar dimana ia pernah bersekolah saat masih kecil dan akan menyampaikan sebuah pidato. Sang kepala sekolah berpesan kepada murid-muridnya "Ini adalah saat-saat bersejarah, Winston Churchill adalah pembicara berbahasa inggris yang paling hebat. Tuliskan semua kata-kata yang diucapkannya. Ia akan menyampaikan sebuah pidato yang tak terlupakan"

Posted In | Motivasi | 0 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Konon suatu hari, Om William yang saat itu usahanya belumlah seraksasa Astra saat ini, datang ke kantor pada pagi hari dan segera disambut oleh seorang Office Boy yang meletakkan segelas minuman di meja kerja Om William. "Selamat pagi Tuan" demikian sapa sang Office Boy dengan sopan yang disambut dengan anggukan dan sambil meletakkan koran di meja, Om William pun balas menyapa "Kamu masih baru ya? sudah berapa lama kamu kerja disini?" "Kira-kira satu bulan Tuan" jawabnya. OW: "Bagaimana? Kamu suka kerja disini?" OB: "Ya Tuan, saya suka bekerja disini"OW: "Baiklah kalau begitu"OB: "Maaf Tuan, apakah saya boleh menyampaikan sesuatu?"OW: "Apa itu?"OB: "Saya mau minta dibelikan selusin gelas untuk para tamu di kantor ini Tuan"Di zaman itu Coca Cola, Fanta & Sprite adalah trend yang dipandang praktis sebagai minuman yang disuguhkan kepada tetamu yang datang ke kantor Om William.OB: "Tuan, seringkali sebotol minuman yang kita suguhkan tidak dihabiskan, kalau saya menggunakan gelas yang saya isi es batu maka sebotol bisa untuk dua orang" Dahi Om William pun sempat berkerut namun kemudian mengangguk tanda setuju dan memberikan sejumlah uang kepada si Office Boy itu untuk membeli gelas. Sebulan berlalu dan dalam sebuah kesempatan si Office Boy menyapa Om William kembali untuk menyampaikan isi hatinya.OW: "Ya, ada apa?"OB: "Maaf Tuan, apakah saya boleh minta uang untuk beli gelas lagi?"OW: "Memangnya kenapa dengan gelas yang dulu kamu beli?"OB: "Gelas itu terlalu besar Tuan, dan sebagian tamu yang datang tidak menghabiskan minumannya, saya ingin membeli gelas yang lebih kecil"Om William pun setuju dan kembali memberikan sejumlah uang untuk membeli gelas kecil, dan si Office Boy itu pergi membeli selusin gelas kecil yang saat itu lazim disebut gelas belimbing" Sekian waktu berlalu, dan kali ini si Office Boy mengetuk pintu ruang kerja Om William, "Ya, masuklah"Si Office Boy pun masuk dan belum sempat berkata-kata, Om William langsung berkata "kali ini kamu jangan lagi minta uang untuk beli gelas ukuran 'sloki' ya!"Si Office Boy nampak gelisah dan berusaha menjelaskan "Maaf Tuan, saya tidak bermaksud minta uang untuk beli gelas lagi, saya hanya ingin minta ijin agar diperbolehkan menanyakan kepada para tamu itu, apa jenis minuman yang sebenarnya mereka suka"Om William yang penasaran masih belum berkata-kata dan si Office Boy melanjutkan perkataanya "Karena ada beberapa gelas yang tidak diminum sama sekali dan mungkin itu karena mereka tidak suka, itulah sebabnya saya perlu menanyakannya".Om William pun tertegun sejenak sambil mengangguk-angguk tanda setuju. "Pastikan apapun perbuatan dan hasil hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya"

Posted In | Motivasi | 1 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Dua ekor katak berlompatan dengan riangnya di sebuah halaman rerumputan sebuah peternakan sapi. Seorang ibu yang sedang membersihkan halaman kandang yang melihat kedua katak itu berusaha mengusir dengan sebuah gagang sapu dan membuat kedua katak itu lari ketakutan."Cepat, kearah sana", kata salah seekor katak itu "Saya melihat tempat persembunyian yang baik dan pasti sulit dijangkau oleh gagang sapu itu" kata si katak menunjuk arah kandang sapi perah yang ada didalam peternakan tsb. "Ayo, cepat" seru si katak pertama dan keduanya melompat-lompat melompat tinggi, lebih tinggi, semakin tinggi lompatannya dan sangat tinggi kearah pagar kandang menuju tempat dimana mereka akan bersembunyi."Plung" pada lompatan terakhir, keduanya serentak mendarat di sebuah ember yang berisi susu segar dan segera mereka berenang ke tepi ember dan berusaha untuk naik keluar dari ember itu sambil sesekali melompat, tapi tidak berhasil. "Oh kawan, habislah kita kali ini, ember aluminium ini sungguh sangat licin, rasanya tidak mungkin memanjatnya, habislah kita kali ini, kita tak bisa kemana-mana lagi, kita akan mati tenggelam disini" kata katak kedua. "Teruslah berusaha, teruslah berenang, teruslah mendayung" kata katak pertama, pasti ada cara untuk bisa keluar dari tempat ini, ayo kita pikirkan, jangan menyerah. Mereka berduapun mendayung dan berenang kesana kemari sambil sesekali melompat berusaha melewati bibir ember. Setelah sekian jam mereka mendayung katak kedua mulai mengeluh lagi: "Ugh, saya sungguh lelah sekali, saya benar-benar kehabisan tenaga, susu ini kental sekali dan dan terlalu licin untuk keluar dari tempat ini." "Ayo, teruslah berusaha, jangan menyerah" kata katak pertama memberi semangat."Percuma saja, kita tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari tempat ini, kita pasti mati disini keluhnya makin lemah" dan gerakan katak kedua itu makin lama makin lambat dan akhirnya tidak bergerak lagi, mati. Sementara itu katak pertama tidak putus asa, dengan sisa-sisa tenaganya masih berenang dan terus mengayunkan tangan dan kakinya sambil sesekali tetap membuat lompatan terus mencoba melewati ember yang mengurungnya.Saat malam menjelang pagi udara terasa sangat dingin, lamat-lamat terdengar ayam berkokok dan tanpa disadari kaki-kaki katak kedua itu serasa mendapat pijakan. Katak itu sudah tidak mendayung lagi karena kakinya terasa berdiri diatas setumpuk mentega hasil karyanya semalaman.Dan "Plop" katak itupun membuat lompatan terakhir untuk keluar dan bebas dari ember yang mengubur temannya.

Posted In | Motivasi | 1 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Musim salju telah mencapai puncaknya, salju turun terus menerus diatas sebuah bukit. Seekor tikus kecil bangun dari tidur panjangnya dan merangkak keluar dari lubangnya untuk menghirup udara segar. "Selamat pagi tikus kecil" suara nyaring itu mengagetkan si tikus yang ternyata berasal dari seekor burung wren mungil sahabat si tikus."Halo burung wren, sapa si tikus gembira karena menemukan teman pada pagi yang dingin itu. Tikus kecil dan burung wren pun duduk bersama meringkuk dibawah cabang yang terendah dari sebuah pohon pinus. Mereka pun ngobrol dan disela-sela pembicaraan si tikus bertanya: "Menurut kamu berapa beratkah sebutir salju?" tanya si tikus kepada burung wren."Sebutir salju hampir tidak mempunyai berat." jawab si burung. "Sebutir salju itu tidak berarti apa-apa sehingga hampir tidak mempunyai berat sama sekali, lagipula bagaimana mungkin kamu menimbang sebutir salju?"Kemudian si tikus mengusulkan, "Bagaimana kalau kita menghitung butiran salju yang menimpa pohon pinus diseberang sana?"Burung wren setuju dan mereka mulai menghitung, secara bergantian sepanjang hari dan tanpa terasa ketika mencapai hitungan ke dua juta empat ratus sembilan puluh dua ribu tiga ratus lima puluh sembilan, tiba-tiba pohon pinus yang sudah putih terselimuti salju itu tumbang hingga mengagetkan kedua mahkluk mungil yang berlarian menghindar.Setelah suasana panik reda, keduanya kembali bertemu sambil memandangi pohon pinus yang tumbang itu. Masih belum hilang rasa kagetnya si tikus bersuara ditengah kesunyian, "Pasti karena sebutir salju yang terakhir yang membuat pohon pinus itu roboh, meskipun hanya sebutir salju dia memiliki bobot, dan meskipun hanya sebutir salju dia bisa membuat perubahan."

Posted In | Motivasi | 0 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Banyak orang masuk ke dalam kehidupan kita, satu demi satu datang dan pergi silih berganti. Ada yang tinggal untuk sementara waktu dan meninggalkan jejak-jejak di dalam hati kita dan tak sedikit yang membuat diri kita berubah. Alkisah seorang tukang lentera di sebuah desa kecil, setiap petang lelaki tua ini berkeliling membawa sebuah tongkat obor penyulut lentera dan memanggul sebuah tangga kecil. Ia berjalan keliling desa menuju ke tiang lentera dan menyandarkan tangganya pada tiang lentera, naik dan menyulut sumbu dalam kotak kaca lentera itu hingga menyala lalu turun, kemudian ia panggul tangganya lagi dan berjalan menuju tiang lentera berikutnya. Begitu seterusnya dari satu tiang ke tiang berikutnya, makin jauh lelaki tua itu berjalan dan makin jauh dari pandangan kita hingga akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam. Namun demikian, bagi siapapun yang melihatnya akan selalu tahu kemana arah perginya pak tua itu dari lentera-lentera yang dinyalakannya. Penghargaan tertinggi adalah menjalani kehidupan sedemikian rupa sehingga pantas mendapatkan ucapan: "Saya selalu tahu kemana arah perginya dari jejak-jejak yang ditinggalkannya." Seperti halnya perjalanan si lelaki tua dari satu lentera ke lentera berikutnya, kemanapun kita pergi akan meninggalkan jejak. Tujuan yang jelas dan besarnya rasa tanggung jawab kita adalah jejak-jejak yang ingin diikuti oleh putera puteri kita dan dalam prosesnya akan membuat orang tua kita bangga akan jejak yang pernah mereka tinggalkan bagi kita. Tinggalkanlah jejak yang bermakna, maka bukan saja kehidupan anda yang akan menjadi lebih baik tapi juga kehidupan mereka yang mengikutinya.

Posted In | Motivasi | 0 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Di Mexico ada sebuah patung yang sangat indah dan diberi nama yang agak aneh, yaitu "In Spite Of..." artinya "Meskipun..." Nama yang diberikan tidaklah sesuai dengan bentuknya tetapi adalah sebuah nama untuk menghormati si pemahat. Pada saat proses pembuatan patung dan masih setengah jadi, si pemahat mengalami kecelakaan dan mengakibatkan cacat tetap pada tangan kanannya dan tidak bisa lagi berfungsi dalam proses penyelesaian patung yang masih setengah jadi itu. Tekad si pemahat untuk tetap menyelesaikan karyanya begitu besar, dia melatih tangan kirinya untuk memahat seterampil tangan kananya hingga akhirnya patung itu tetap mampu diselesaikan sesempurna jika dia menggunakan tangan kanannya. Itulah sebabnya masyarakat setempat memberi nama patung itu "In Spite Of..." untuk menghargai tekad luar biasa si pemahat.

Posted In | Motivasi | 1 Comments
Written By Haryo Ardito
Sunday, 22 July 2007
Haryo Ardito Orang Jepang memelihara pohon yang lazim disebut Bonsai, pohon ini indah dan dibentuk dengan sempurna walaupun tingginya hanya dalam hitungan sentimeter.

Posted In | Motivasi | 0 Comments