Seekor Tikus yang hidup di sebuah hutan belantara merasa hidupnya sangat tertekan karena takut pada Kucing. Ia lalu menemui seorang Penyihir sakti untuk meminta tolong. Penyihir memenuhi keinginannya dan mengubah si Tikus menjadi seekor Kucing. Namun setelah menjadi Kucing, kini ia begitu ketakutan pada Anjing. Kembali ia menemui Penyihir sakti yang kemudian mengubahnya menjadi seekor Anjing. Tak lama setelah menjadi Anjing, sekarang ia merasa ketakutan pada Singa.
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya.
Pada suatu sore hari seorang petani pergi ke kota dan masuk ke sebuah restoran dan menemui pemiliknya untuk menawarkan apakah mau menerima pasokan ribuan paha kaki kodok setiap hari. Pemilik restoran itu kaget setengah tak percaya dan bertanya balik, dari mana ia kok bisa mendapatkan paha kodok segitu banyaknya! Petani itu menjawab, "Disamping rumahku ada sebuah kolam yang didalamnya berjubel penuh kodok, wuihhh, pasti ada jutaan. Semalaman mereka itu mengorek, suaranya ribut bukan main, pokoknya terus menerus berbunyi dan suaranya benar-benar membuatku hampir gila"
Selama bertahun-tahun di Monterey, California merupakan surga bagi burung-burung pelikan. Sebab di kota ini ada banyak pabrik pengalengan ikan. Burung-burung pelikan menyukai kota ini karena saat para nelayan membersihkan tangkapan mereka & memisahkan yang kurang bagus maka burung-burung pelikan segera berdatangan berebut makanan mereka.
Suatu hari seekor kalajengking mondar-mandir di tepian sebuah sungai dan bermaksud menuju seberang sungai. Ditengah kebingungannya itu kalajengking melihat seekor katak yang sedang berenang-renang dipinggir sungai itu. Kalajengking berteriak memanggil si katak dan memintanya untuk mengantar ke seberang sungai. Tapi dengan tegas si katak menolak permintaan kalajengking, katanya “Aku tak mau mati konyol dengan membawamu menyeberangi sungai ini, karena aku tau kamu beracun dan kamu pasti akan menyengatku selagi ada kesempatan.”
Alkisah ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelita dan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anak laki-laki semata wayangnya. Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah.
Musim kering telah tiba, sekelompok angsa bersiap-siap terbang bersama meninggalkan sebuah danau yang mulai dangkal untuk bermigrasi ke arah selatan ke sebuah tempat dimana air mengalir.
Adalah seorang raja yang berkuasa di sebuah wilayah di Eropa, seorang raja yang terkenal pemberani dan disegani kawan maupun musuh-musuhnya. Sang raja memiliki seorang putri yang telah beranjak dewasa dan sudah saatnya menikah, namun yang diinginkannya adalah seorang menantu yang pemberani seperti dirinya.
Saat kembali ke kota kelahiran, saya menyempatkan diri untuk berjumpa dengan beberapa kawan lama. Di antaranya adalah dua bersaudara, yang salah satunya berada di panti rehabilitasi narkoba sedangkan saudara lainnya adalah seorang pengusaha otomotif yang terbilang sukses. Di antara kawan-kawan seumur, hal ini sering menjadi bahan pergunjingan. Mengapa dua bersaudara yang berasal dari orang tua yang sama, dibesarkan dalam lingkungan yang sama, dapat menjadi sangat berbeda.
Senin pagi itu nyaris saja saya terlambat memasukkan kartu absensi ke clock-card tapi beruntung masih kurang 5 menit dan tidak sempat tercetak 'merah'. Meski halaman parkir sudah ada beberapa mobil dan motor tapi di lantai 17 tempat saya bekerja masih terasa sepi karena hanya ada kira-kira sepertiga dari biasanya. Nampak dua buah payung basah terbuka untuk dikeringkan. Usai meletakkan tas di meja kerja, seperti biasa saya ke dapur untuk menyeduh segelas coffee-mix, "Pagi Gus" kataku menyapa seorang staf yang belum tiga bulan bergabung di perusahaan ini dan nampak sudah sibuk dihadapan komputer-nya"Selamat pagi Pak, banjir ya Pak?""Iya, hujan deras, banjir dan macet dimana-mana, rumah kamu pasti dekat sini ya ? enak dong, tidak kena macet". "Tidak juga Pak, cukup jauh Pak, sekali naik bus dan dua kali naik angkot kira-kira satu setengah jam perjalanan kalau cuaca normal.""Oh begitu ya, koq nggak terlambat masuk kantornya?""Iya Pak, kan udah ketauan kalau bulan-bulan musim hujan begini kebanyakan macet, apalagi ini hari senin, pasti lebih parah Pak" "Saya berangkat setengah jam lebih awal dari biasanya" "Ooo..., saya pun manggut2 sambil mulai membuka laptop di meja saya." "Pagi Dave" tiba-tiba saja Jimmy menyapa seraya berjalan tergopoh-gopoh melewati ruanganku dengan baju agak basah dan sibuk melap tangannya dengan tissue, jam di dinding menunjukkan pukul 08.25"Wah.. kacau.. kacau, benar-benar parah.. hujan deras banget, banjir dimana-mana, macetnya ampunnnn… mana lainnya? Ha.. ha.. pasti banyak yang telat juga kan ? Kamu kena telat juga kan? kena macet juga kan?" lanjut Jimmy sambil berjalan tergesa-gesa menuju ruang-kerjanya. Saya tersenyum kecil sambil membaca e-mail yang mulai mengalir dan dalam hati bergumam: "Karena hujan, ada sebagian orang yang mempersiapkan diri agar tidak datang terlambat, sementara itu sebagian lainnya meyakini bahwa semua orang pasti datang terlambat demikian pula dirinya".