‘Ini tangan apa?!” Teriakan saya mendapat jawaban spontan: “Tangan bagusss!!” Giliran tangan kiri yang saya angkat dengan pertanyaan yang sama, kali ini ada banyak variasi jawaban mulai dari “tangan jelek, tangan kotor, tangan tidak sopan hingga (maaf) tangan cebok.”
Di awal tahun 1900an, Vilfredo Pareto seorang insinyur-ekonom-sosiolog berkebangsaan Italy mengembangkan apa yang disebutnya ”Hukum 80/20”. Risetnya mengindikasikan bahwa dalam sebuah bisnis, 20 % barang dagangannya menghasilkan 80% bisnisnya dan bahwa kira-kira 20% populasi mengendalikan kira2 80% kekayaan.
Mari kita belajar dari peristiwa alam. Kita mengenal binatang jerapah, seekor induk Jerapah melahirkan anaknya sambil berdiri dan pada saatnya bayi Jerapah akan jatuh ke tanah yang keras dari kandungan induknya. Hal pertama yang dilakukan oleh induknya adalah berdiri di belakang anaknya dan memberikan tendangan yang cukup keras ke tubuh bayi Jerapah. Bayi Jerapah terbangun mencoba berdiri namun masih mudah terjatuh karena kakinya yang masih lemah dan mudah goyah.
Seekor Tikus yang hidup di sebuah hutan belantara merasa hidupnya sangat tertekan karena takut pada Kucing. Ia lalu menemui seorang Penyihir sakti untuk meminta tolong. Penyihir memenuhi keinginannya dan mengubah si Tikus menjadi seekor Kucing. Namun setelah menjadi Kucing, kini ia begitu ketakutan pada Anjing. Kembali ia menemui Penyihir sakti yang kemudian mengubahnya menjadi seekor Anjing. Tak lama setelah menjadi Anjing, sekarang ia merasa ketakutan pada Singa.
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya.
Pada suatu sore hari seorang petani pergi ke kota dan masuk ke sebuah restoran dan menemui pemiliknya untuk menawarkan apakah mau menerima pasokan ribuan paha kaki kodok setiap hari. Pemilik restoran itu kaget setengah tak percaya dan bertanya balik, dari mana ia kok bisa mendapatkan paha kodok segitu banyaknya! Petani itu menjawab, "Disamping rumahku ada sebuah kolam yang didalamnya berjubel penuh kodok, wuihhh, pasti ada jutaan. Semalaman mereka itu mengorek, suaranya ribut bukan main, pokoknya terus menerus berbunyi dan suaranya benar-benar membuatku hampir gila"
Selama bertahun-tahun di Monterey, California merupakan surga bagi burung-burung pelikan. Sebab di kota ini ada banyak pabrik pengalengan ikan. Burung-burung pelikan menyukai kota ini karena saat para nelayan membersihkan tangkapan mereka & memisahkan yang kurang bagus maka burung-burung pelikan segera berdatangan berebut makanan mereka.
Suatu hari seekor kalajengking mondar-mandir di tepian sebuah sungai dan bermaksud menuju seberang sungai. Ditengah kebingungannya itu kalajengking melihat seekor katak yang sedang berenang-renang dipinggir sungai itu. Kalajengking berteriak memanggil si katak dan memintanya untuk mengantar ke seberang sungai. Tapi dengan tegas si katak menolak permintaan kalajengking, katanya “Aku tak mau mati konyol dengan membawamu menyeberangi sungai ini, karena aku tau kamu beracun dan kamu pasti akan menyengatku selagi ada kesempatan.”
Alkisah ada seorang pedagang yang mempunyai seorang istri jelita dan seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Suatu hari istrinya jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Betapa pedihnya hati pria tersebut. Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anak laki-laki semata wayangnya. Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang; anaknya ditinggal di rumah.
Musim kering telah tiba, sekelompok angsa bersiap-siap terbang bersama meninggalkan sebuah danau yang mulai dangkal untuk bermigrasi ke arah selatan ke sebuah tempat dimana air mengalir.